Tentang Emosional, Kepercayaan, Penghargaan, dan Penyiksaan
Kamis, 17 September 2020.
Aku memutuskan untuk membagi ceritaku yang mungkin kalian mengalami hal yang sama, yang masih belum aku temukan jawabannya. Siapa aku ?, Apakah hidupku ini sudah milikku ?. Bagaimana aku mendapatkan kebahagiaan untuk diriku ?, Mengapa orang-orang mengkampanyekan cinta kepada diri sendiri ?, Kapan aku bisa lepas dari jerat rasa ini ?, Dimana aku seharusnya berada ?.
Aku akan mulai dari cerita lalu diawal bulan...
1. Emosional, Kepercayaan, Penghargaan, Penyiksaan
Aku membaca sebuah postingan di sebuah sosial media tentang luka masa kecil yang terjadi karena sosok ‘Ayah’. Kurang lebih yang aku dapatkan adalah masalah emosional, kepercayaan, penghargaan, bahkan penyiksaan1.
Aku tidak begitu ingat ketika aku merasa senang maupun sedih, adakah sosok ‘Ayah’ itu bersamaku atau tidak. Baik untuk menghiburku ataupun bersenang senang bersamaku. Tapi jika menilik akibat yang ditimbulkan dari sebuah pengabaian seorang Ayah kepada anak adalah perasaan takut akan kehilangan atau ditinggalkan, jawabnya adalah ‘ya’. Aku selalu takut jika teman-teman yang aku sayangi membenciku dan meninggalkanku serta memilih orang lain. Tapi disisi lain aku juga seringkali mengabaikan mereka. Hingga akhirnya mereka memang benar-benar menjauh dariku. Aku kerap merasa jika itu adalah kesalahanku, akibat dari perbuatanku atau sifatku, temanku tidak menyukaiku.
Berlanjut ke masalah berikutnya. Entah karena sibuk bekerja atau terlalu gengsi, ayahku memang tidak sepenuhnya hadir dalam hidupku. Akibatnya adalah aku mengalami krisis kepercayaan. Baik kepercayaan diri maupun kepercayaan pada orang lain. Apa yang aku rasakan adalah aku benar-benar tidak mampu melakukan satu hal apapun dengan baik. Aku mudah percaya pada orang lain, lalu aku mudah dan selalu merasa curiga disaat yang bersamaan. Apakah kalian ada yang merasakan hal yang sama denganku ?. Misalnya saja, orang selalu mengelu-elukan kemampuan bernyanyiku, tapi aku merasakan bahwa aku masih jauh dari baik dan sering bertanya dalam hati “apakah ini benar ?, aku hanya sekedar bisa bernyanyi. Mungkinkah ada yang salah dengan orang ini?”.
Satu kalimat yang selalu terngiang ditelingaku adalah ‘jangan terlalu murah jadi perempuan’. Aku mengalami fase cinta monyet saat kelas dua SMA. Aku berpacaran dengan adik kelasku tapi sebenarnya usia kami sama. Saat itu pacarku ini adalah anak pengusaha yang cukup terkenal di daerahku, dan bahkan ibuku adalah langganan di toko ibu pacarku, bahkan berbisnis kecil-kecilan. Suatu ketika ada konser di dekat rumahku, dan pacarku mengajak aku untuk menonton bersamanya dan sepupuku, dengan menaiki mobil pacarku. Saat itu membawa mobil kesekolah adalah tanda bahwa orang tersebut benar-benar kaya. Ketika mereka sampai dirumah dan tidak lama setelah kami mengobrol di teras rumahku, ayahku datang mengusir mereka (setelah kejadian ini, ayahku terus mengusir teman-temanku yang lain) dan membentakku didepan mereka untuk masuk kerumah. Setelah masuk rumah aku langsung mendapatkan kalimat yang hingga kinipun masih terasa sakit jika mengingatnya. Sambil menunjuk-nunjuk kearahku, ayahku terus memarahiku. Hingga sekarang pun, aku selalu merasa tidak puas dengan apa yang telah aku capai karena aku selalu menginginkan lebih. Disaat yang bersamaan aku juga merasa bahwa aku tidak mampu mencapai mimpi-mimpiku karena aku tidak memiliki kecakapan apapun, aku tidak berharga!.
Apakah salah satu penyebab dari yang selalu aku rasakan ini adalah juga disebabkan oleh bagian penyiksaan ?. Sejak kecil, aku kerap mendapatkan pukulan dari ayahku jika aku tidak menuruti perkataannya, jika aku melompat-lompat diatas kasur, jika aku berisik, dan hal lainnya bahkan yang setelah aku sadari saat ini bukanlah sebuah hal besar untuk mendapatkan pukulan seperti bermain lompat-lompatan diatas kasur. Ayahku selalu memarahiku dengan membentakku, menyentil telingaku dengan keras hingga memerah, memukul, nada bicaranya selalu tinggi dan lantang dengan mata membelalak. Suatu ketika adikku pernah melarangku untuk pergi ke dapur karena ayah dan ibu sedang bertengkar. Saat itu adikku masih duduk dibangku SMP. Sadarku saat ini menjawab pertanyaanku atas sifat adikku yang sulit membuat batasan ke orang lain sepertiku. Saat aku mulai memasuki usia delapan belas tahun, Ibu mulai bercerita tentang kesulitan yang ia alami selama ini atas perlakuan ayah. Disisi lain, aku juga tidak tahu mengapa ayah mencoba bercerita kepadaku dengan Bahasa yang menurutku adalah Bahasa pembelaan diri. Aku hanya bisa menangis setiap kali mereka bercerita satu sama lain kepadaku dan aku tak mampu mengutarakan apa yang ada dikepalaku yang mungkin jika aku utarakan akan mengubah situasi menjadi lebih baik.
7 September 2020
Comments
Post a Comment